Pendidikan merupakan suatu usaha yang bertujuan untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu, pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh manusia untuk meningkatkan derajatnya. Lingkungan Pendidikan yakni pendidikan formanl, nonformal dan informal memiliki tanggung jawa untuk mewujudkan tujuan tersebut. Pendidikan yang diselengarakan harus memiliki startegi-strategi terbaik untuk mencapai tujuan. Pada pendidikan formal, guru selalu disuguhkan dengan pengembangan kompetensi yang bisa digunakan dalam mendidik siswanya. Hal ini biasa dilakukan setiap bulan pada komunitas guru masing-masing satuan pendidikan. Satuan pendidikan harus memiliki budaya positif untuk mengembangkan kompetensi afektif, pengetahuan, dan keterampialan siswanya. Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menciptakan budaya positif adalah membuat keyakinan kelas. Pada kesempatan ini, saya akan fokus membahas bagaimana membuat keyakina kelas di kelas saya dan apa saja hambatan yang saya hadapi dalam mebuat keyakinan kelas.
Keyakinan kelas adalah salah satu pendekatan untuk menciptakan budaya positif dilingkungan kelas atau sekolah. Keyakian kelas yang disepakati aberisi nilai-nilai universal yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Keyakinan kelas yang terbentuk merupakan hasil kesadaran diri siswa yang muncul dari dala diri siswa.
Adapun langkah-langkah untuk membuat keyakinan kelas di kelas saya terdiri dari tahap perencanan, tahap pelaksanaan, dan tahap penutupan.
Pada tahap perencanaan, saya berkomunikasi dengan wali kelas untuk membuat keyakinan kelas untuk menyepakati waktu yang terbaik untuk membuat keyakinan kelas bersama dengan siswa. Setelah itu, saya menyiapkan alat dan bahan seperti karton, stiky note, dan spidol. Dan saya membuat perencanaan langkah-langkah dalam membuat keyakinan kelas.
Pada tahap pelaksanaan, pada awal pembelajaran siswa diminta untuk berdoa sebeum dimulai membuat keyakina kelas. Setelah itu, guru menyampaikan tujuan kegiatan kepada peserta didik yaitu membuat keyakinan kelas bersama. Selanjutnya, saya meminta siswa untuk menuliskan kelas impian yang mereka inginkan di stiky note. Apabila sudah selesai siswa diminta untuk menempelkan di papan tulis. Selanjutnya, saya membaca satu persatu impian siswa yang sudah tertempel di papan tulis. Siswa merasa bangga dibacakan impiannya. Selanjutnya, saya menarik kebajikan-kebajikan universal yang ada dalam setiap impian siswa. Ternyata muncul 9 nilai-nilai universal yang yang berasal dari impian kelas siswa. Selanjutnya, saya kompres menjadi 7 nilai-nilai universal karena menurut teori bahwa keyakinan kelas yang dibuat hendahnya terdiri dari 3 sampai 7 poin agar mudah diingat. Setelah itu, saya membuatkan pernyataan positif dari nilai-nilai universal yang telah dibuat sehingga jadilah keyakinan kelas. Langkah terakhir adalah saya meminta semua siswa kelas untuk maju kedepan untuk menulisakn nama atau bertanda tangan sebagai bentuk komitmen dalam menjalan keyakinan kelas tersebut.
Pada tahap penutup, saya bersama siswa membaca keyakinan kelas yang telah dibuat bersama dan membuat keyakinan bersama akan selalu mengingat dan mengimplementasikan keyakinan kelas yang telah dibuat.
Setelah membentuk keyakinan kelas, maka tugas guru adalah selalu mengingatkan siswa. Ketika siswa melanggar maka guru bisa mengingatkan kembalikeyakinan kelas yang telah disepakati
Ada beberapa kendala yang saya hadapi dalam membuat keyakinan kelas antara lain: kurangnya kosakata siswa dalam membuat impian kelasnya. Akhirnya, saya membantu mereka dengan menyebutkan contoh-contoh impian kelas yang biasa diinginkan oleh siswa kelas tiga. Dari segi bahan yang saya sediakan. Ternyata karton yang saya sediakan tidak cukup lebar sehingga tulisan keyakinan kelas terlihat kecil. Wali kelas pun berinisiatif untuk menggantinya dengan yang lebih besar.
Selanjutnya, saya memperhatikan bahwa Keyakinan kelas yang telah yang telah kami buat disepekati bersama memberikan pemahaman kepada siswa tentang hal-hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan di kelas. Saya merasa bangga melihat perubahan yang terjadi siswa saja. Saya juga merasa percaya diri dalam proses pembelajaran karena saya bisa mengatur kelas dengan baik setelah terbentuknya keyakinan kelas. Setiap ada siswa yang melanggar saya selalu mengingatkan mereka tentang keyakinan kelas yang telah mereka sepekati.
Harapan saya kedepan adalah semua teman guru bisa membuat kesepakatan keyakinan kelas di kelasnya masing-masing untuk menciptakan siswa yang memiliki perilaku yang positif berdasarkan keyakinan kelas yang telah mereka sepekati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar