Jumat, 21 Oktober 2022

Keputusan Berdasarkan End-Base Thinking



Pak Aswal mewawancarai dua kepala sekolah untuk mengetahui cara pengambilan keputusan mereka yang terkait masalah yang mengandung dilema etika atau bujukan moral. Kepala sekolah yang pertama diwawancarai adalah kepala sekolah UPT SPF SD Inpres Paccerakkang, Muhammad Yunus Sunusi. Kedua, Kepala Sekolah TK Islam Terpadu Al-Kautsar, Nur Amaliah A. P.

Pak Aswal menemukan beberapa hal yang menarik dalam wawancara dengan kedua pimpinan sekolah tersebut. Dalam wawancara tersebut, pimpinan menjelaskan secara detail bagaimana mereka memtuskan masalah yang mengandung dilema etika sehingga Pak Aswal merasa bersemangat untuk menggali lebih mendalam pengalaman keduan pimpinan tersebut.

Muncul pertanyaan yang masih mengganjal dalam benak Pak Aswal setelah mewawancarai kedua pimpinan tersebut. Pertanyaan tersebut adalah hal apa yang mendasari kedua pimpinan tersebut menjadikan pendapat bawahan mereka sebagai hal efektif dalam pengambilan keputusan mereka. Apabila merujuk pada 3 prinsip pengambilan keputusan maka kedua pimpinan tersebut menggunakan prinsip berpikir berbasis hasil akhir atau End-Based Thinking dimana keputusan yang diambil kedua pimpinan tersebut mengedepankan kepentingan banyak orang.

Selanjutnya, Pak Aswal menganalisis sesuatu yang menonjol dari kedua pimpinan tersebut. Ternyata Pak Aswal mendapati bahwa kedua pimpinan tersebut sama-sama menonjol dalam menerapkan prinsip pengambilan End-Based Thinking yaitu mereka selalu memikirkan konsekuensi untuk banyak orang. Selain itu, Pak Aswal menemukan bahwa kedua pimpinan tersebut selalu diperhadapkan pada paradigma dilema etika kebenaran melawan rasa kasihan (justice vs mercy). Ini ini terjadi karena hasil akhir dari keputusan mereka kadang mengabaikan peraturan sekolah yang berlaku.

Terkait dengan rencana kedepan kedua pimpinan ketika menghadapi kasus dilema etika, Pak aswal menemukan bahwa mereka akan meminta saran dan pertimbangan dari guru-guru mereka ketika menghadapi kasus dilema etika. Pak Aswal memahami bahwa kedua pimpinan mengukur atau menguji efektifitas keputusan mereka berdasarkan kepentingan orang banyak. Ketika keputusan sudah memberikan kebaikan untuk orang banyak maka hal tersebutlah yang akan menjadi prioritas mereka. Berdasarkan wawancara dengan kedua pimpinan tersebut, Pak Aswal menemukan banyak pelajaran yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dilema etika atau bujukan moral yang ada dilingkungan sekolah sehingga Pak Aswal berencana untuk selalu menggunakan sembilan langkah pengujian pengambilan keputusan sebelum menetapkan keputusaan. Pak Aswal menganggap bahwa keputusan yang diuji dengan sembilan langkah akan mengasilkan keputusan yang terbaik bagi peserta didik, rekan guru, dan lingkungan sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar